Jumat, 19 Oktober 2012

/19/
Sabtu baru saja dimulai, tepatnya 45 menit berjalan. Namun, lapar ini mulai mengikis kehangatan malam. Satu dus snack sisa selamatan kelahiran ponakan menjadi harapan terakhir lapar ini tertunda. Ya, demikianlah kiranya, mengingat di meja makan hanya tersisa sepiring bubur yang sama sekali aku tak suka.

Lalu bagaimana dengan dahaga? Aku rasa, aku tak perlu segelas air putih atau secangkir kopi hangat. Itu bukan karena aku sang ular. Tapi, semua lebih karena ini hari sabtu, hari di mana senyummu menjadi pelepas dahaga kerinduan yang satu minggu tertatahan. Bersiaplah, mulailah bersolek sejak dalam mimpimu. Dengan begitu, ketika matamu mulai terbuka dan kau sadar, kau sudah terlihat makin cantik. Begitu juga aku, aku akan mulai menyisir rambutku menjelang aku lelap. Hingga sudah dapat kupastikan, aku sudah tampan meski tak lagi tersadar.

Rabu, 17 Oktober 2012

/18/
 
Suara itu cukup keras terdengar. Ya, keras hingga dinding ketidaksadaranku pun roboh sehingga aku terbangun dr lelap. Mata sontak terbuka, menghela nafas sejenak sambil berharap nyawa ini segera berkumpul dan menyadarkanku 100%. O, ternyata suara horn masjid di sudut kampung sunyi ini. Tetapi sebentar, bukan lantunan asma Allah. Ya, suara itu bukan panggilan untuk beribadah yg dikumandangkan. Ah tidak, benar saja, itu berita salah seorang karib yg meninggal di cikarang. Rupanya dia meninggal semalam tepat ketika jarum jam menunjuk angka 7 dan 12.
/17/
Pagi ini, Kubuka perlahan tirai kamarku. Kabut mendung dan pekat malam yang masih tersisa pun menyapa. Aroma tanah basah masih sesekali terendus. O, semalam hujan rupanya. Nampaknya aku terlalu lelap dalam mimpiku.

Selimut bekas sprei yang bolong aku sibakkan. Aku pikir, ada baiknya aku segera bergegas. Ya, karena ini Rabu, hari di mana Profesor flamboyan itu siap menjejaliku dengan gugusan angka dan rumus yang sudah kupastikan tak akan lama bersemanyam di kepalaku. Bukan aku pesimis atau alergi, tetapi lebih karena itu semua dejavu bagiku.

Tepat 5 menit aku mandi, 5 menit pula aku bersolek. Setelah merasa cukup tampan, aku pun siap berangkat menikmati kuliah Profesor. Tidak lupa segelas air putih aku teguk sebagai bentuk sarapan yang menyegarkan.

Dan, 25 menit aku menembus padatnya jalan jogja yang mulai ruwet bak ibu kota. Sampai kelas juga ternyata. Benar saja, aku telat. Rupanya Profesor itu sudah mulai bekerja. Penjelasannya masih seperti dulu. Sama bahkan serupa. Bukan lagi sekadar dejavu, melainkan persis yang terulang. Namun, aku tetap menikmati, terlebih kini Profesor tampak lebih tampan. Kumis tipis nan jarang yang aku jumpai 2 tahun lalu, kini bersih. Aku pun mulai mengagumi. Ya, kagum. Profesor mampu menjelaskan deretan angka dan rumus selama 2,5 jam penuh dg baik. Sementara aku, terkadang mengajar 1,5 jam saja sudah kehabisan kosa kata. Aku ingin sepertimu Prof, setidaknya rajin dan disiplinmu yang kutiru.

Jumat, 06 Juli 2012

/15/ "Suami itu investasi, maka pilihlah investasi yang tepat"
/14/  "Jodoh itu harus dijemput", memang benar jodoh di tangan Tuhan. Makanya harus dijemput, kan yang butuh kita. Bukan Tuhan

Rabu, 04 Juli 2012

/13/ Syarat mapan yang diajukan wanita kepada calon suami itu tidak lain adalah indikasi bahwa si wanita enggan berjuang dan berusaha untuk membangun kemapanan yang lebih baik. Dengan kata lain, dia belum siap gagal atau dia sudah cukup nyaman dangan "harta" calon suaminya.
/12/  Menurutku "Pria Mapan" itu tidak pernah ada. Jika indikator dari kemapanan adalah mampu memenuhi segala kebutuhan maka mapan tidak pernah ada. Hal itu karena kebutuhan itu sendiri tak terbatas