Minggu, 02 Desember 2012

/25/


RINGKASAN MATERI
FUNGSI BAHASA INDONESIA SECARA UMUM
oleh: Rahmat Hidayat, S.Pd.
A.    Pengertian Bahasa
Bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi ya ng arbriter dan konvensional. Lambang tersebut berupa bunyi ujar yang melambangkan sesuatu yang disebut makan atau konsep. Disebut sistem karena bersifat sistemik dan sitematik. Bersifat sistematik karena bahasa mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku. Bahasa juga bersifat sistemik karena bahasa itu sendiri merupakan suatu sistem atau subsitem-subsistem. Misalnya terdiri dari subsistem seperti fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, maupun wacana. Sementara itu, disebut arbriter karena bahasa bersifat semena-mena. Meski demikian, bahasa juga bersifat konvensional yang berarti merupakan kesepakatan  penutur atau masyarakatnya.
     Bahasa pada hakikatnya berupa ujaran. Bentuk-bentuk perwujudan lain seperti rambu-rambu, sandi, bunyi kentongan, tepukan tangan, dan tulisan pada hakikatnya tidak dapat disebut bahasa. Yang disebutkan tersebut adalah perwujudan lain dari bahasa. Bahasa tulis (tulisan) tidak dapat digolongkan pada bahasa dalam arti yang sebenarnya, melainkan hanya perwujudan lain dari bahasa yang sebenarnya dengan menggunakan media huruf. Bunyi ujar (bahasa lisan) itulah yang disebut dengan bahasa dalam arti yang sebenarnya.

B.     Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat komunikasi dan interaksi. Namun, para ahli memiliki rumusan masing-masing mengenai fungsi bahasa secara khusus.
Fungsi bahasa menurut Jakobson (dalam Soeparno, 2002: ) dibagi menjadi 6:
1.      Fungsi Emotif
Fungsi Bahasa untuk mengungkapkan perasaan gembira, kesal, sedih, dan sebagainya.
2.      Fungsi Referensial
Fungsi bahasa untuk membicarakan suatu permasalahan dengan topik tertentu.
3.      Fungsi Puitik
Fungsi bahasa untuk menyampaikan amanat atau pesan.
4.      Fungsi Fatik
Fungsi bahasa hanya untuk sekadar melakukan kontak atau menyapa orang lain.
5.      Fungsi Metalingual
Fungsi bahasa untuk membicarakan masalah/ tentang bahasa tertentu.
6.      Fungsi Konatif
Fungsi bahasa yang bertumpu pada lawan tutur, misalnya agar lawan tutur bersikap atau berbuat sesuatu.

Fungsi bahasa menurut Halliday (dalam Rahardi, 2009: 6) dibagi menjadi enam:
1.      Fungsi Instrumental
Yaitu bahasa dapat digunakan untuk melayani lingkungannya.
Contoh: Bahasa seorang costumerservice pada saat melayani pelanggan.
2.      Fungsi Regulasi
Yaitu bahasa dapat digunakan untuk mengawasi atau mengendalikan peristiwa tertentu (orang-orang sebagai anggota masyarakat).
Contoh: Perintah, himbauan
3.      Fungsi Representasional
Yaitu fungsi bahasa untuk menyampaikan pernyataan, fakta, pengetahuan, menjelaskan peristiwa, melaporkan sesuatu, dan hal lain yang bersifat untuk menggambarkan atau mempresentasikan sesuatu.
Contoh: Hari ini cuaca sangat panas.
4.      Fungsi interaksional
Yaitu fungsi bahasa sebagai alat interaksi dan komunikasi.
Contoh: Untuk diskusi, berbincang
5.      Fungsi Personal
Yaitu bahasa dapat digunakan untuk menyatakan maksud-maksud presonal/ pribadi.
Contoh: menyatakan emosi, menyatakan perasaan
6.      Fungsi Heuristik
Yaitu Bahasa berkaitan erat dengan kegunaan bahasa untuk mempelajari pengetahuan, mencari ilmu, mengembangkan teknologi, dan menyampaikan rumusan-rumusan yang bersifat pernyataan.
Contoh: Bahasa dalam skripsi



C.     Variasai Bahasa
Variasai bahasa adalah keanekaragaman bahasa yang disebabkan oleh faktor tertentu. Menurut Seoparno (2002: 71) ada tujuh variasi bahasa.
1.      Variasi Kronologis
Variasi ini disebabkan oleh faktor keurutan waktu atau masa. Perbedaan pemakaian bahasa telah mengakibatkan perbedaan wujud pemakaina bahasa. Wujud nyata pemakaian bahasanya disebut kronolek.
Contoh: Bahasa Jawa kuno/ kawi – Bahasa Jawa Tengahan (pada masa akhir majapahit) – Bahasa Jawa baru (pada masa sekarang)
2.      Variasi Geografis
Variasi ini disebabkan oleh perbedaan geografis atau faktor regional. Wujud varietasnya disebut dialek.
Contoh: Bahasa Jawa Banyumas – Bahasa Jawa Yogyakarta – Bahasa Jawa Surabaya.
3.      Variasi Sosial
Variasi ini disebabkan oleh perbedaan sosiologis. Realisasi variasi ini disebut sosiolek. Beberapa macam sosiolek antara lain sebagai berikut.
a.       Akrolek
Variasi bahasa yang dianggap lebih tinggi atau bergengsi dibandingkan dengan variasi bahasa yang lain.
Contoh: Bahasa bagongan kraton, bahasa dialek jakarta
b.      Basilek
Realisasi bahasa yang dianggap kurang bergengsi ata bahkan rendah.
Contoh: Bahasa Jawa krama ndesa
c.       Vulgar
Realisasi bahasa yang ciri-cirinya menunjukkan pemakain bahasa oleh penutur yang kurang terpelajar.
d.      Slang
Wujud atau realisasi bahasa yang bersifat khusus dan rahasia. Bersifat rahasia berarti tidak boleh orang lain mengerti. Bahkan selalu berubah secara temporal untuk menjaga kerahasiaan.
e.       Kolokial
Realisasi bahasa yang merupakan percakapan sehari-hari atau situasi tidak resmi.
f.       Jargon
Wujud variasi bahasa yang pemakaiannya terbatas pada kelompok tertentu (sulit/ tidak bisa dimengerti kelompok lain).
Contoh: Bahasa tukang batu, bahasa montir.
g.      Argot
Wujud wariasi bahasa yang pemakaiaanya terbatas pada profesi-profesi tertentu yang bersifat rahasia.
Contoh: Bahasa pencopet
h.      Ken (cant)
Wujud variasi bahasa yang dipakai oleh kelompok sosial tertentu dengan lagu yang dibuat memelas.
Contoh: Pengemis

4.      Variasi Fungsional
Variasi ini disebabkan oleh perbedaan fungsi pemakaian bahasa. Wujud variasi bahasi ini disebut fungsiolek. Pemakaian bahasa dalam dengan pokok bahasa tertentu dalam linguisti disebut register.
Contoh: Bahasa untuk khotbah, bahasa tukang jual obat, bahasa warta berita.
5.      Variasi Gaya/ Style
Variasi ini disebakan oleh perbedaan gaya. Gaya adalah cara berbahasa seseorang dalam perpomansinya secara terencana maupun tidak, baik secara lisan maupun tertulis. Mario Pei (dalam Soeparno, 2002: 74) mengemukakan adanya lima gaya bahasa yaitu (1) gaya puisi, (2) gaya prosa, (3) gaya ujaran baku, (4) gaya kolokial, (5) gaya vulgar dan slang. Sementara itu, Martin Joos (dalam Soeparno, 2002: 74) membedakan lima macam gaya berdasarkan tingkat kebakuan.
a.       Gaya Frozen
Gaya ini disebut gaya beku karena pembentukannya tidak pernah berumah dari masa ke masa dan oleh penutur siapapun.
Contoh: Bahasa pada doa, kitab
b.      Gaya Formal
Gaya ini juga disebut gaya baku. Pola dan kaidahnya sudah ditetapkan dan pemakaiannya pada situasi resmi.
Contoh: Gaya bahasa pada dunia pendidikan, perkantoran

c.       Gaya Konsultatif
Gaya ini disebut juga gaya setengah resmi, biasa digunakan pada kalangan bisnis.
d.      Gaya Kasual
Gaya ini disebut juga gaya informal atau santai.
e.       Gaya Intim
Gaya ini disebut juga gaya akrab karena biasa dipergunakan oleh penutur yang hubungannya sudah sangat akrab.

6.      Variasi Kultural
Variasi ini disebabkan oleh perbedaan budaya masyarakat pemakaiannya. Suatu bahasa yang dipergunakan oleh penutur asli atau penutur pribumi kadang-kadang mengalami perubahan dengan masuknya budaya lain.
7.      Variasi Individual
Variasi ini disebabkan oleh perbedaan perorangan individu penuturnya. Variasi bahasa ini disebut idiolek.

       Selain variasi bahasa di atas, Chaer, Abdul dan Leonie Agustina (2004: 72) menambahkan variasi bahasa dari segi sarana, yaitu ragam lisan dan ragam tulis.

Sumber:
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik. Jakarta: Rineka Cipta.

Rahardi, Kunjana. 2009. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Erlangga.

Soeparno. 2002. Dasar-dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: Tiara Wacana.


Senin, 12 November 2012






/24/
Dia salah satu yang aku panjatkan dalam doa. Semoga Tuhan mengizinkan. Amin
/23/
Momen pernikahan dan momen kelahiran sang anak tentu menjadi saat-saat yang bahagia bagi mempelai dan keluarga mempelai, serta bagi keluarga si bayi. Namun, disadari atau tidak, ternyata tidak semua menanggapi positif terhadap kedua momen itu. Sebagai resiko dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial dan bermasyarakat, ada saja celoteh sumbing dari warga sekitar (tetangga). Misalnya "Walah kokyo bareng-bareng, mbokyo le rabi ki rodo sesuk, mbokyo mesakke tanggane ben ambegan sik". Itu ungkapan tetangga dalam bahasa Jawa. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia kurang lebih "Walah/ aduh kok berbarengan (waktunya), kalau bisa nikahnya besok-besok saja, kasihan tetangganya biar bisa bernafas dahulu". Jika anda paham tentang konteks, maka anda paham yang saya maksud.

Minggu, 21 Oktober 2012

/22/



Tak banyak yang mampu aku lukiskan di awal perjumpaan kita. Aku hanya tahu, senyummu terlalu manis menghiasi wajahmu yang seringkali tersipu. Bahkan menjadi sangat manis di bawah hidungmu yang mungil. Hingga pada akhirnya kekaguman yang menuntunku untuk tahu tentangmu.

Sejauh ini hubungan kita terlampau istimewa. Jangankan amarah, berpikiran negatif tentangmu pun aku enggan. Biarlah mereka iri dengan kisah ini. Aku hanya tak mau membuat matamu basah atas kesalahanku. Air mata matamu terlalu sayang jika kau teteskan percuma. Bahkan matamu terlihat lebih berbinar dengan sedikit warna hitam yang seringkali kau goreskan sesaat sebelum kita kencan.

Asal kau tahu, aku bukan sosok yang mampu menghadirkan seribu candi di hadapanmu. Bukan pula Arjuna yang tampan dan menawan. Dalam kisah ini, aku hanya mampu memberikan apa yang seharusnya bisa aku perjuangkan.
/21/
Perkembangan anak: guru vs orang tua


Guru merupakan akronim dari konsep pemikiran orang Jawa digugu lan ditiru. Menjadi sosok yang digugu lan ditiru membuat beban seorang guru menjadi tidak mudah. Digugu menjadi perwakilan yang menggambarkan ilmu-ilmu yang ditransfer hendaklah diperhatikan dan kemudian diamalkan oleh siswa. Sementara itu, ditiru menjadi perwakilan yang menggambarkan sosok kepribadian guru yang sempurna sehingga patut dicontoh. Sosok yang dapat digugu lan ditiru seolah merupakan gambaran sosok yang tepat untuk diberi amanat untuk mencerdaskan anak. Namun, apakah di zaman yang berkembang ini sosok guru harus menanggung beban yang sedemikian berat?
            Guru pada zaman sekarang menjelma sebagai orang yang hanya bertugas menransfer ilmu kepada anak. Hal ini bergeser dari konsep digugu lan ditiru pada masa lampau. Namun, memang itu yang menjadi prioritas tugas seorang guru. Waktu anak yang tidak lebih dari 8 jam di sekolah membuat guru tidak mampu untuk banyak menransfer kepribadian sosok seorang panutan. Selagi guru menyampaikan materi dan teori yang sudah digariskan dalam kurikulum, waktu 8 jam sudah berlalu. Hal ini membuat guru tidak lagi fokus memperhatikan perkembangan kepribadian dan budi pekerti anak. Selain itu, jumlah siswa tidaklah sedikit. Dari sini bisa kita bayangkan betapa sempitnya kemungkina transfer kepribadian itu bisa berjalan maksimal.
            Lalu bagaimana dengan peran orang tua? Orang tua, khusunya di pedesaan, sering kali tidak peduli dengan perkembangan kecerdasan anak. Orang tua sering kali abai terhadap perkembangan anak baik kecerdasan akademis maupun kecerdasan berperilaku. Padahal justru di sini orang tua harus berperan dominan. Dominasi peran orang tua sudah selayaknya terwujud mengingat waktu anak di rumah lebih panjang dibanding ketika di sekolah.
            Berdasarkan pandangan di atas, peran orang tua menjadi sangat jelas. Sementara guru bertugas mencerdaskan anak dalam sisi akademis, maka seharusnya orang tua bertugas mencerdaskan kepribadian anak. Orang tua mengajarkan bagaimana menjadi insan yang baik di mata masyarakat maupun di mata Tuhan. Kemudian guru bertugas menyuapai serentetan teori sebagai bekal kelak bertahan hidup dan menghadapi kemajuan zaman. Selain itu, tugas lebih orang tua adalah menemani belajar ketika anak belajar di rumah. Dari sini, orang tua bisa menularkan kepribadian  positif  kepada anak. Lebih lanjut, orang tua hendaklah menjadi sosok yang mampu dijadikan “idola”. Hal ini menjadi penting karena orang tua akan sangat ditiru oleh anak baik dari sisi akademis maupun berperilaku. Maka, kita sering mendengar jargon “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

Sabtu, 20 Oktober 2012

/20/

saudara terkadang bukan masalah alur gen dan keturunan, melainkan karena intesitas kedekatan, balas jasa, dan hutang budi