Minggu, 06 Januari 2013
Rabu, 02 Januari 2013
SEBUAH KISAH KUNANG
/33/
SEBUAH KISAH KUNANG
Hmmmmm…….
Di
sekitar rumahku udah gak ada kunang-kunang. Mungkin karena harga BBM mahal?
Jadi dia gak bisa menyalakan lampunya, sedangkan kalau pake gas dia gak kuat
bawa tabungnya, terus kalau pake aki dia
mungkin takut kesetrum ….
Ckckckckck
…..
Sayang,
keinginannya untuk memberi kisah pada pekat malam harus terbatasi kebijakan
pejabat. Hingga hanya kenangan yang mampu
menceritakan redup sinar kesederhanaan di bawah egoisnya terang merkuri
Sebuah Perenungan
/31/
Nasehat Bapak begitu karib dengan Tuhan,
sementara Ibu tersenyum dan mengaimini
/29/
Mendung, pantas saja siang mulai redup
terik mentari pun memudar terguyur rintik hujan
secangkir kopi menjadi sangat pantas untuk bersulang
namun dengan siapa?
sementara aku sendiri termangu pada sudut keheningan
aku hanya berteman dengan perenungan-perenungan
namun, kopi tetaplah kopi
pahit ku teguk saat dingin
pun demikian dengan angan
sementara hujan selalu menyisakan kesejukan
pun demikian dengan kenyataan
Mendung, pantas saja siang mulai redup
terik mentari pun memudar terguyur rintik hujan
secangkir kopi menjadi sangat pantas untuk bersulang
namun dengan siapa?
sementara aku sendiri termangu pada sudut keheningan
aku hanya berteman dengan perenungan-perenungan
namun, kopi tetaplah kopi
pahit ku teguk saat dingin
pun demikian dengan angan
sementara hujan selalu menyisakan kesejukan
pun demikian dengan kenyataan
Selasa, 11 Desember 2012
/27/
Ketika orang tua kita berbincang dengan rekan sejawat, teman, sahabat atau siapa pun terkadang memperbincangkan kita sebagai anaknya. Mereka saling berlomba membanggakan tentang kita (anak). Kemudian saya berpikir, seandainya sampai detik ini saya belum bisa menjadi kebanggan bagi mereka, setidaknya saya tidak ingin mengecewakan mereka.
/26/
Tentang pemikiran orang di pedesaan (di daerah saya):
Aku: "Pak kok putrine mboten diken neruske kuliah?" *secara ekonomi bapak tersebut mampu
Bapak x: "Walah mas, wong wedok sekolah dhuwur nggo ngopo? Sesuk sekolah dhuwur nek wes dadi yo mung dipek uwong"
Saya rasa tidak sesederhana itu, Banyak yang bisa didapatkan dari kuliah. Selain ilmu, kedewasaan berpikir, teman dan koneksi jg bisa didapatkan yang kedepannya bs menjadi rekan kerja. Dan yang paling penting, sebagai anak wanita lulusan perguruan tinggi tentu nilai tawar/ jual (derajat) nya lebih tinggi jika dibandingkan dengan tidak kuliah. Hal itu berarti, calon suami dan calon mantu yg bisa didapatkan juga akan lebih berkelas..
Tentang pemikiran orang di pedesaan (di daerah saya):
Aku: "Pak kok putrine mboten diken neruske kuliah?" *secara ekonomi bapak tersebut mampu
Bapak x: "Walah mas, wong wedok sekolah dhuwur nggo ngopo? Sesuk sekolah dhuwur nek wes dadi yo mung dipek uwong"
Saya rasa tidak sesederhana itu, Banyak yang bisa didapatkan dari kuliah. Selain ilmu, kedewasaan berpikir, teman dan koneksi jg bisa didapatkan yang kedepannya bs menjadi rekan kerja. Dan yang paling penting, sebagai anak wanita lulusan perguruan tinggi tentu nilai tawar/ jual (derajat) nya lebih tinggi jika dibandingkan dengan tidak kuliah. Hal itu berarti, calon suami dan calon mantu yg bisa didapatkan juga akan lebih berkelas..
Langganan:
Postingan (Atom)