Selasa, 11 Juni 2013

PENGERTIAN, FAKTOR PENYEBAB, DAN AKIBAT YANG DITIMBULKAN KONTAK BAHASA

/52/


PENGERTIAN, FAKTOR PENYEBAB, 
DAN AKIBAT YANG DITIMBULKAN KONTAK BAHASA
oleh Rahmat Hidayat, S.Pd.

A.  Pengertian Kontak Bahasa
Thomason (2001: 1) menjelaskan bahwa kontak bahasa adalah peristiwa penggunaan lebih dari satu bahasa dalam tempat dan waktu yang sama. Penggunaan bahasa ini tidak menuntut penutur untuk berbicara dengan lancar sebagai dwibahasawan atau multibahasawan, namun terjadinya komunikasi antara penutur dua bahasa yang berbeda pun sudah dikategorikan sebagai peristiwa kontak bahasa. Sebagai contoh, ketika dua kelompok wisatawan saling meminjamkan alat masak selama dua atau tiga jam, mereka pasti akan berusaha untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Peristiwa komunikasi ini, meskipun mungkin dalam bentuk yang sangat sederhana, sudah masuk dalam kategori kontak bahasa.

B.  Faktor Penyebab Kontak Bahasa
Thomason (2001: 17-21) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kontak bahasa dapat dikelompokan menjadi lima, yaitu :
1.    Adanya dua kelompok yang berpindah ke daerah yang tak berpenghuni kemudian mereka bertemu di sana.
2.    Perpindahan satu kelompok ke wilayah kelompok lain.
3.    Adanya praktek pertukaran buruh secara paksa.
4.    Adanya hubungan budaya yang dekat antarsesama tetangga lama.
5.    Adanya pendidikan atau biasa disebut ‘kontak belajar’.

C.  Akibat Kontak Bahasa
Kontak bahasa berhubungan erat dengan terjalinnya kegiatan sosial dalam masyarakat terbuka yang menerima kedatangan anggota dari satu atau lebih masyarakat lain. Thomason (2001:157) mengatakan bahwa adanya lingua franca menyebabkan terjadinya kontak bahasa. Lebih jauh lagi, Thomason menyatakan bahwa tiga hal akibat percampuran bahasa memunculkan bahasa pidgins, creol, dan bahasa bilingual campuran. Fenomena tersebut merupakan fenomena yang saling terpisah, hanya saja untuk pidgin dan creol, dua hal tersebut terjadi secara alami bersama-sama.
Thomason (2001: 158) menyampaikan bahwa bahasa-bahasa yang mengalami kontak tidak harus selalu menjadi lingua franca. Pidgin dan kreol muncul dalam konteks dimana orang-orang dari latar belakang linguistik yang berbeda perlu mengadakan pembicaraan secara teratur, inilah asal muasal lingua franca; sedangkan bahasa bilingual campuran merupakan golongan bahasa tersendiri yang bukan merupakan bahasa dari pergaulan luas.

Apa itu pidgin dan kreol?
Thomason (2001:159) menjelaskan bahwa pidgin secara tradisional adalah bahasa yang muncul dalam kontak situasi baru yang melibatkan lebih dari dua kelompok kebahasaan. Kelompok-kelompok ini tidak memiliki satupun bahasa yang diketahui secara luas diantara kelompok-kelompok yang saling terkontak. Mereka perlu berkomunikasi secara teratur, namun untuk tujuan yang terbatas, misalnya perdagangan. Dari beberapa kombinasi alasan ekonomi, sosial dan politik, mereka tidak mempelajari bahasa yang digunakan oleh masing-masing kelompok, melainkan hanya mengembangkan pidgin dengan kosakata yang secara khusus digambarkan (meskipun tidak selalu) dari salah satu bahasa yang mengalami kontak. Tata bahasa pidgin tidak berasal dari salah satu bahasa manapun, melainkan merupakan sejenis kompromi persilangan tata bahasa dari bahasa-bahasa yang terkontak, dengan sedikit terpengaruh dari pembelajaran bahasa kedua, secara khusus kemudahan belajar membantu menentukan struktur kebahasaan pidgin.
Pandangan-pandangan mengenai pidgin di atas membawa beberapa implikasi, yaitu bahwa pidgin tidak memiliki penutur asli: pidgin selalu digunakan sebagai bahasa kedua (atau ketiga, atau keempat, atau...) dan secara khusus digunakan untuk tujuan terbatas bagi komunikasi antarkelompok. Implikasi yang kedua, yaitu bahwa pidgin mempunyai lebih sedikit bahan atau materi linguistik dibandingkan bahasa nonpidgin – lebih sedikit kata, serta tata bahasa dan sumber gaya dalam sintak dan wacana yang terbatas.Contoh pidginisasi terjadi pada kontak bahasa pada bahasa Bali, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris dalam kawasan pariwisata di Bali.
Selanjutnya creol, creol sangat kontras dengan pidgin, dimana creol mempunyaipenutur asli dalam komunitas ujaran. Seperti pidgin, creol berkembang dalam kontak situasi yang didalamnya melibatkan lebih dari dua bahasa. Creol secara khusus menggambarkan leksikonnya, namun tidak tata bahasanya. Grammar creol sama seperti pidgin yang berasal dari persilangan bahasa yang dikompromikan oleh kreator, seseorang yang mungkin atau tidak mungkin memasukkan penutur asli dari bahasa lexfier. Pada kenyataan beberapa bahasa creol merupakan penutur asli pidgin.
Thomason (2001: 198) juga menyebutkan bahwa akibat lain dari adanya kontak bahasa adalah bahasa bilingual campuran (bilingual mixed languages). Pengistilahan ini merujuk pada fakta bahwa bahasa tersebut diciptakan oleh dwibahasawan, hanya saja agak sedikit melenceng karena pada dasarnya tidak ada batasan berapa jumlah bahasa yang bisa digabungkan untuk membentuk bahasa bilingual campuran ini. Oleh sebab itu, tidak ada alasan mengapa multibahasawan tidak dapat membentuk sebuah bahasa campuran dengan menggambarkan pada tiga atau lebih bahasa yang mereka tuturkan, meskipun Thomason juga mengatakan bahwa dia tidak tahu satupun bahasa campuran yang stabil dimana semua komponennya tergambar dari lebih dari dua bahasa.
Chaer dan Agustina (2010: 84) berpendapat bahwa peristiwa-peristiwa kebahasaan yang mungkin terjadi sebagai akibat adanya kontak bahasa adalah peristiwa bilingualisme, diglosia, alih kode, campur kode, interferensi, integrasi, konvergensi, dan pergeseran bahasa. Berikutnya kita akan membahas satu-persatu peristiwa tersebut.
1.    Bilingualisme
Spolsky menyebutkan bahwa bilingualisme ialah ketika seseorang telah menguasai bahasa pertama dan bahasa keduanya (45:1998). Sedangkan, Chaer (2007:65-66) menyampaiakan beberapa pendapat ahli sebagai berikut.
a.       Blomfield (1995) mengartikan bilingual sebagai penguasaan yang sama baiknya oleh seseorang terhadap dua bahasa.
b.      Weinrich (1968) menyebutkan bahwa bilungual merupakan pemakaian dua bahasa oleh seseorang secara bergantian; sedangkan
c.       Haugen (1966) mengartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan tuturan yang lengkap dan bermakna dalam bahasa lain yang bukan termasuk bahasa ibunya.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dengan demikian bilingualisme merupakan penguasaan seseorang terhadap dua  bahasa atau lebih (bukan bahasa ibu) dengan sama baiknya. Bilingualisme terjadi pada penutur yang telah menguasai B1 (bahasa pertama) kemudian ia juga mampu berkomunikasi dengan B2 (bahasa kedua) secara bergantian seperti yang terjadi di Montreal.

2.    Diglosia
Ferguson (melalui Chaer dan Agustina, 2010: 92) menggunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat di mana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu. Contoh dari bahasa Jawa terdapat bahasa Jawa Ngoko, Madya, dan Kromo.

3.    Alih kode
Alih kode merupakan peralihan dari kode yang satu ke kode yang lain, baik pada tataran antarbahasa, antarvarian (baik regional atau sosial), antarregister, antarragam, dan antargaya. Secara umum, alih kode adalah pergantian (peralihan) pemakaian dua bahasa atau lebih, beberapa variasi dari satu bahasa, atau beberapa gaya dari satu ragam bahasa. Apple (1976:79, melalui Chaer dan Agustina, 2010: 107-108) mendefinisikan alih kode itu sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubah situasi. Berbeda dengan Apple yang menyatakan alihkode itu antarbahasa, Hymes (1875:103, melalui Chaer dan Agustina, 2010: 107-108) menyatakan alih kode itu bukan hanya terjadi antarbahasa, tetapi dapat juga terjadi antar ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam suatu bahasa. Sebagai contoh alih kode, penutur A dan B sedang bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa sunda kemudian datang C yang tidak mengerti bahasa sunda maka A dan B beralih kode dalam bahasa Indonesia yang juga dimengerti oleh C.

4.    Campur kode
Thelender (1976: 103, melalui Chaer dan Agustina, 2010: 115) mencoba menjelaskan mengenai alih kode dan campur kode. Bila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode. Akan tetapi apabila di dalam suatu peristiwa tutur, klausa-klausa maupun frase-frase yang digunakan terdiri dari klausa dan frase campuran (hybrid clauses, hybrid phrases), dan masing-masing klausa atau frase itu tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode bukan alih kode.

5.    Interferensi
Interferensi adalah penyimpangan norma bahasa masing-masing yang terjadi di dalam tuturan dwibahasawan (bilingualisme) sebagai akibat dari pengenalan lebih dari satu bahasa dan kontak bahasa itu sendiri. Interferensi meliputi interferensi fonologi, morfologi, leksikal, dan sintaksis. Contoh interferensi fonologi pada kata Bantul è mBantul. Interferensi morfologi pada kata terpukulè kepukul. Hal ini terinterferensi bahasa Indonesia oleh bahasa Jawa. Interferensi sintaksis pada kalimat di sini toko laris yang mahal sendiriètoko laris adalah toko yang paling mahal di sini. Interferensi leksikon pada kata kamanahèkemana (bahasa Indonesia terinterferensi bahasa Sunda).

6.    Integrasi
Integrasi merupakan bahasa dengan unsur-unsur pinjaman dari bahasa asing dipakai dan dianggap bukan sebagai unsur pinjaman, biasanya unsur pinjaman diterima dan dipakai masyarakat setelah terjadi penyesuaian tata bunyi atau tata kata dan melalui proses yang cukup lama. Contoh police dari bahasa Inggris yang telah diintegrasikan oleh masyarakat Malaysia menjadi polis, kata research juga telah diintegrasikan menjadi riset.

7.    Konvergensi
Secara singkat Chaer dan Agustina (2010: 130) menyatakan bahwa ketika sebuah kata sudah ada pada tingkat integrasi, maka artinya kata serapan itu sudah disetujui dan converged into the new language. Karena itu proses yang terjadi dalam integrasi ini lazim disebut dengan konvergensi. Contoh berikut proses konvergensi bahasa indonesia dan sebelah kanan bentuk aslinya.
Klonyoè eau de cologne                     sirsakè zuursak
Sopir è chauffeur                                researchè riset

8.    Pergesesan bahasa.
Pergeseran bahasa (language shift) menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau sekelompok penutur yang bisa terjadi sebagai akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur lain (Chaer dan Agustina, 2010: 142). Kalau seorang atau sekelompok orang penutur pindah ketempat lain yang menggunakan bahasa lain, dan bercampur dengan mereka maka akan terjadi pergeseran bahasa.  Contoh pergeseran bahasa Jakarta baru-baru ini telah membuka lapangan kerja bagi para lulusan SMK untuk ditempatkan pada pabrik di kawasan jabodetabek. Kemudian para pemuda yang berasal dari SMK diseluruh Indonesia berbondong untuk menjadi pekerja di pabrik tersebut. Para pemuda yang berasal dari berbagai daerah tersebut pasti akan mengalami kontak bahasa. Ketika mereka berbicara dengan penutur yang berasal dari daerah yang sama maka mereka menggunakan bahasa daerah, namun ketika berbicara bukan dengan penutur yang berasal dari daerah yang sama maka mereka menggunakan bahasa indonesia dialek jakarta. Dengan adanya peritiwa ini maka pergeseran bahasa sangat mungkin terjadi.

SUMBER REFERENSI

Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Thomason. G, Sarah.2001.Language Contact. Edinburg: Edinburg University Press Ltd.

HONORIFIK, BENTUK KESOPANAN BAHASA

/51/


HONORIFIK, BENTUK KESOPANAN BAHASA
oleh Rahmat Hidayat, S.Pd.

Kata ‘politeness’ dapat diartikan ‘kesopanan’. Meski sering disejajarkan dan dipasangkan, kata sopan dan kata santun memiliki arti yang berbeda. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata sopan sebagai sifat hormat dan takzim serta tertib menurut adat yang baik. Sementara itu, kata santun berarti sifat halus dan baik budi bahasanya serta tingkah lakunya. Dengan demikian, sopan santun dapat diartikan sebagai sifat hormat, tertib pada norma yang berlaku, halus dan baik budi bahasa, serta baik perilakunya. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki sopan santun adalah seseorang yang hormat, tertib pada norma yang berlaku, halus dan baik budi bahasa, serta baik perilakunya.
Yatim (1983: 10) menjelaskan bahwa honorifik merupakan bentuk-bentuk kebahasaan yang digunakan untuk menyatakan rasa hormat dalam aturan-aturan yang bersifat psikologis dan kultural. Kridalaksana (2008: 85) mendefinisikan honorik sebagai suatu bentuk lingual yang dipakai untuk menyatakan penghormatan, yang dalam bahasa tertentu digunakan untuk menyapa orang lain. Bentuk lingual yang dimaksud bisa berupa aturan gramatikal yang kompleks seperti dalam bahasa Jepang yang ditandai adanya afiksasi. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, honorifik berkenaan dengan penggunaan ungkapan penghormatan dalam bahasa untuk menyapa orang tertentu.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, bentuk honorifik dapat dikatakan sebagai bentuk untuk menyatakan sikap kesopanan dengan tujuan untuk menghormati lawan bicara. Lebih lanjut, Brown dan Levinson (1978, melalui Oktavianus, 2006: 102) menjelaskan bahwa di dalam setiap komunikasi yang dilakukan oleh para partisipan tidak hanya sekadar menyampaikan pesan, tetapi lebih dari itu berkomunikasi adalah juga memelihara hubungan sosial timbal balik antara penutur dan mitra tutur. Sebagai contoh, Wardaugh (1986: 267) mencontohkan honorifik dalam bahasa Jawa. Misalnya, untuk kata ‘makan’ dapat diwujudkan dengan kata ‘dhahar’ ataupun ‘nedha’ tergantung dari siapa lawan bicara.
 Untuk lebih jelasnya, berikut ada beberapa contoh honorik dari berbagai bahasa.
1.        Contoh Honorifik  dalam Bahasa Inggris:
Yule (1996: 60) mencontohkan honorifik dalam Bahasa Inggris sebagai berikut.
(a) Excuse me, Mr. Buckingham, but can I talk to you for a minute?
(b) Hey, Bucky, got a minute?
Kalimat (a) dianggap lebih sopan dan lebih memiliki rasa hormat yang tinggi dibandingkan kalimat (b) meski maksud dari kedua kalimat tanya tersebut sama.

2.        Contoh Honorifik dalam Bahasa Jawa:

Kowe arep lunga menyang ngendhi? (a)
Sampeyan ajeng kesah dhateng pundhi? (b)
Panjenengan badhe tindhak dhateng pundhi? (c)
Ketiga kalimat tanya tersebut memilik arti yang sama yaitu Kamu/ Anda mau pergi ke mana?. Namun, berdasarkan unda usuking basa (tataran bahasa jawa) tingkat kesopanan ketiga kalimat tersebut berbeda. Kalimat (c) dianggap paling sopan apabila dibandingkan dengan kalimat (b) dan (a). Sementara itu, kalimat (b) dianggap lebih sopan dibandingkan dengan kalimat (a). Dalam hal ini, honorifik dalam Bahasa Jawa sangat jelas bisa dilihat karena Bahasa Jawa mengenal aturan kebahasaan yang disebut  unda usuking basa. Aturan tersebut berupa tataran tingkatan kesopanan dan bentuk penghormatan yang bertumpu pada lawan bicara. Ngadiman (2011) menjelaskan bahwa secara garis besar, ada empat tataran Bahasa Jawa yaitu kasar, ngoko, madya, dan krama.
a.        Kasar
Basa jawa kasar adalah bahasa yang derajatnya paling rendah. Bahasa tingkat ini adalah bahasa sehari-hari yang dipergunakan oleh orang yang tidak berpendidikan yang tidak punya sopan santun sama sekali, orang yang sedang marah, atau orang yang meremehkan orang lain. Perampok atau penjahat lainnya ujaran yang dipakai Bahasa Jawa kasar, penuh dengan kosa kata seharian (kolokial) yang kasar, kosa kata tabu dan kasar. Nada bicara pemakai basa Jawa tidak lembut tetapi kasar dengan suara tinggi, dan dibarengi ada hentakan (bentakan). Posisi tubuh pembicara tidak ada rasa simpatik, dan sombong.
b.        Ngoko
Tingkat tutur ngoko mencerminkan rasa akrab (solider) antara pembicara dan mitra bicara. Artinya, pembicara tidak memiliki rasa segan, hormat atau rasa pakewoh (sungkan) terhadap mitra bicara. Orang yang ingin menyatakan keakraban terhadap mitra bicara, atau sesamanya, tingkat Ngoko inilah yang tepat untuk dipakai. Teman yang saling akrab biasanya saling berbicara ngoko. Maka akan menjadi aneh bila antar teman yang sudah kenal dan akrab berbicara dalam tingkat madya atau krama. Bila antar teman yang akrab berbicara dalam tingkat tutur krama maka hubungannya menjadi tidak akrab dan suasana bicara yang biasanya berubah menjadi resmi. Sebagai contoh, Kowe arep lunga menyang ngendhi?
c.         Madya
Tingkat tutur madya adalah tingkat tutur menengah antara ngoko dan krama. Tingkat tutur ini menceminkan rasa sopan, tingkat tutur ini semula adalah tingkat tutur krama tetapi sudah mengalami penurunan atau perkembangan yang lebih rendah statusnya, yang sebut kolokialisasi (menjadi bahasa sehari-hari yang tidak formal, atau perubahan dari formal menjadi tidak formal. Oleh karena itu, bagi kebanyakan orang tingkat madya ini disebut setengah sopan. Orang yang disapa dengan tingkat tutur ini biasanya orang yang tidak begitu disegani atau tidak sangat dihormati. Sebagai contoh, Sampeyan ajeng kesah dhateng pundhi?
d.        Krama
Tingkat tutur krama ialah tingkat tutur yang mencerminkan sikap penuh sopan santun. Tingkat tutur ini menandakan adanya tingkat segan, sangat menghormati, bahkan takut. Seorang pembicara yang menganggap bahwa mitra bicaranya orang yang berpangkat, berwibawa, belum dikenal, akan menggunakan tingkat tutur ini. Murid terhadap guru, seorang bawahan kepada atasan.  Seorang bawahan yang berbicara dengan atasan, atau seorang murid kepada gurunya memakai bahasa ngoko dkatakan tidak sopan atau njangkar atau nukak krama. Sebagai contoh, Panjenengan badhe tindhak dhateng pundhi?

3.        Contoh Honorifik dalam Bahasa Indonesia:
(a) Apakah ada yang ingin kamu tanyakan?
(b) Apakah ada yang ingin Anda tanyakan?
(c) Apakah ada yang ingin Saudara tanyakan?
Dari ketiga kalimat tanya di atas, dapat dilihat penggunaan kata ganti orang kedua yang berbeda memberikan tingkat kesopanan dan rasa hormat yang berbeda pula. Contoh lain sebagai berikut.
(a) Dia pergi lima menit yang lalu.
(b) Beliau pergi lima menit yang lalau.
Dari kedua kalimat di atas, dapat dilihat penggunaan kata ganti orang ketiga yang berbeda memberikan tingkat kesopanan dan rasa hormat yang berbeda pula. Contoh lain sebagai berikut.
(a) Maaf Pak, mohon izin ke belakang.
(b) Maaf Pak, mohon izin ke kamar kecil.
(c) Maaf Pak, mohon izin ke toilet.
(d) Maaf Pak, mohon izin ke WC.
Berdasarkan keempat kalimat di atas, dapat dilihat penggunaan istilah yang tepat dapat memberikan nuansa rasa hormat dan sopan yang lebih baik. Keempat kalimat di atas memiliki maksud yang sama. Akan tetapi, kalimat (a) dianggap paling sopan dibandingkan ketiga kalimat yang lain.

4.        Contoh Honorifik dalam Bahasa Makasar
Yatim (1983: 80) mencontohkan honorifik dalam Bahasa Makasar sebagai berikut.
(a) amakku
(b) amakku anrong kalengku
Kedua kata di atas memiliki arti yang sama yaitu ibuku. Akan tetapi, kata (b) dianggap memiliki rasa hormat dan sopan yang lebih apabila digunakan dalam berbahasa.  Contoh lain sebagai berikut.
(a) bajikanganganjikasiya-asiya alangkanaya kalumannyang mingka susai nyawaya
(b) teak sunggu kasulasa kontungku sikali sayu teak matekne namajai pakrisikku
Kedua kalimat di atas memiliki arti yang sama yaitu lebih baik hidup miskin daripada kaya tanpa kebahagiaan. Akan tetapi, kalimat (b) dianggap memiliki rasa hormat dan sopan yang lebih apabila digunakan dalam berbahasa.  Contoh lain sebagai berikut.

(a) bajikangangangi matea natallasaka kasirikasirik
(b) takunjungak bangung turuk
Kedua kalimat di atas memiliki arti yang sama yaitu lebih baik mati daripada hidup menanggung malu. Akan tetapi, kalimat (b) dianggap memiliki rasa hormat dan sopan yang lebih apabila digunakan dalam berbahasa.

5.        Contoh Honorifik dalam Bahasa Korea
Honorifik dalam kata ganti sebutan untuk orang. Cirinya terdapat kata '' [nim] atau '' [bun] yang mengikuti kata ganti orang sebagai bentuk panggilan hormat.
Contoh berikut kami ambil dari (
www.seoulina.com):
선생                        선생님            [honorifik]       =          guru
이사람                    이분                [honorifik]       =          orang ini
윤아씨                   윤아님            [honorifik; '' diubah jadi ''] = Ny. Yuna
Contoh lain dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4: Contoh Honorifik dalam Bahasa Korea
Bentuk Sederhana
Bentuk Honorifik
Arti
진지
nasi
나이
현세
umur
이름
성함
nama
rumah
말하다
말씀하다
berbicara
먹다
드시다/잡수시다
makan
마시다
드시다
minum
있다
계시다
ada
자다
주무시다
tidur
생일
생신
ulang tahun
죽다
돌아가시다
meninggal
주다
드리다
memberi


6.        Contoh Honorifik dalam Bahasa Jepang
Di dalam Bahasa Jepang, penjelasan yang ada pada (id.wikipedia.org/wiki/Tuturan_honorifik_dalam_bahasa_Jepan) menjelaskan Bahasa penghormatan (sonkeigo) adalah kata-kata dipakai untuk meninggikan kedudukan lawan bicara ketika sedang membicarakan keadaan atau tindakan yang dilakukan lawan bicara. Sonkeigo dapat dinyatakan dengan mengganti kata dan dengan menambah prefiks.
Contoh sonkeigo dengan mengganti kata adalah sebagai berikut.
(a) taberu (食べる) → meshiagaru (召し上がる ), makan
(b) miru (見る) → goranninaru (ご覧になる), melihat
(c) iu (言う) → ossharu (おっしゃる), mengatakan
Contoh sonkeigo dengan penambahan prefiks o atau go adalah sebagai berikut.
(a) isogashii (忙しい) o-isogashii (お忙しい) sibuk
(b) tabō (多忙) → go-tabō (ご多忙) sibuk




Suber Referensi



Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik (ed. ke-4). Jakarta: Gramedia.


Oktavianus. 2006. Analisis Wacana Lintas Bahasa. Padang: Andalas University Press.

Yatim, Nurdin. 1983. Subsistem Honorifik Bahasa Makasar: Sebuah Analisis Sosiolinguistik. Ujung Pandang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian.

Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press.