/24/
Dia salah satu yang aku panjatkan dalam doa. Semoga Tuhan mengizinkan. AminSenin, 12 November 2012
/23/
Momen pernikahan dan momen kelahiran sang anak tentu menjadi saat-saat yang bahagia bagi mempelai dan keluarga mempelai, serta bagi keluarga si bayi. Namun, disadari atau tidak, ternyata tidak semua menanggapi positif terhadap kedua momen itu. Sebagai resiko dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial dan bermasyarakat, ada saja celoteh sumbing dari warga sekitar (tetangga). Misalnya "Walah kokyo bareng-bareng, mbokyo le rabi ki rodo sesuk, mbokyo mesakke tanggane ben ambegan sik". Itu ungkapan tetangga dalam bahasa Jawa. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia kurang lebih "Walah/ aduh kok berbarengan (waktunya), kalau bisa nikahnya besok-besok saja, kasihan tetangganya biar bisa bernafas dahulu". Jika anda paham tentang konteks, maka anda paham yang saya maksud.
Minggu, 21 Oktober 2012
/22/
Tak banyak yang mampu aku
lukiskan di awal perjumpaan kita. Aku hanya tahu, senyummu terlalu manis
menghiasi wajahmu yang seringkali tersipu. Bahkan menjadi sangat manis di bawah
hidungmu yang mungil. Hingga pada akhirnya kekaguman yang menuntunku untuk tahu
tentangmu.
Sejauh ini hubungan kita
terlampau istimewa. Jangankan amarah, berpikiran negatif tentangmu pun aku
enggan. Biarlah mereka iri dengan kisah ini. Aku hanya tak mau membuat matamu
basah atas kesalahanku. Air mata matamu terlalu sayang jika kau teteskan
percuma. Bahkan matamu terlihat lebih berbinar dengan sedikit warna hitam yang
seringkali kau goreskan sesaat sebelum kita kencan.
Asal kau tahu, aku bukan sosok
yang mampu menghadirkan seribu candi di hadapanmu. Bukan pula Arjuna yang
tampan dan menawan. Dalam kisah ini, aku hanya mampu memberikan apa yang
seharusnya bisa aku perjuangkan.
/21/
Perkembangan anak: guru vs orang tua
Guru merupakan akronim
dari konsep pemikiran orang Jawa digugu
lan ditiru. Menjadi sosok yang digugu
lan ditiru membuat beban seorang guru menjadi tidak mudah. Digugu menjadi perwakilan yang
menggambarkan ilmu-ilmu yang ditransfer hendaklah diperhatikan dan kemudian
diamalkan oleh siswa. Sementara itu, ditiru menjadi perwakilan yang
menggambarkan sosok kepribadian guru yang sempurna sehingga patut dicontoh. Sosok
yang dapat digugu lan ditiru seolah
merupakan gambaran sosok yang tepat untuk diberi amanat untuk mencerdaskan
anak. Namun, apakah di zaman yang berkembang ini sosok guru harus menanggung
beban yang sedemikian berat?
Guru
pada zaman sekarang menjelma sebagai orang yang hanya bertugas menransfer ilmu
kepada anak. Hal ini bergeser dari konsep digugu
lan ditiru pada masa lampau. Namun, memang itu yang menjadi prioritas tugas
seorang guru. Waktu anak yang tidak lebih dari 8 jam di sekolah membuat guru
tidak mampu untuk banyak menransfer kepribadian sosok seorang panutan. Selagi
guru menyampaikan materi dan teori yang sudah digariskan dalam kurikulum, waktu
8 jam sudah berlalu. Hal ini membuat guru tidak lagi fokus memperhatikan
perkembangan kepribadian dan budi pekerti anak. Selain itu, jumlah siswa
tidaklah sedikit. Dari sini bisa kita bayangkan betapa sempitnya kemungkina
transfer kepribadian itu bisa berjalan maksimal.
Lalu
bagaimana dengan peran orang tua? Orang tua, khusunya di pedesaan, sering kali
tidak peduli dengan perkembangan kecerdasan anak. Orang tua sering kali abai
terhadap perkembangan anak baik kecerdasan akademis maupun kecerdasan
berperilaku. Padahal justru di sini orang tua harus berperan dominan. Dominasi
peran orang tua sudah selayaknya terwujud mengingat waktu anak di rumah lebih
panjang dibanding ketika di sekolah.
Berdasarkan
pandangan di atas, peran orang tua menjadi sangat jelas. Sementara guru
bertugas mencerdaskan anak dalam sisi akademis, maka seharusnya orang tua
bertugas mencerdaskan kepribadian anak. Orang tua mengajarkan bagaimana menjadi
insan yang baik di mata masyarakat maupun di mata Tuhan. Kemudian guru bertugas
menyuapai serentetan teori sebagai bekal kelak bertahan hidup dan menghadapi
kemajuan zaman. Selain itu, tugas lebih orang tua adalah menemani belajar
ketika anak belajar di rumah. Dari sini, orang tua bisa menularkan
kepribadian positif kepada anak. Lebih lanjut, orang tua
hendaklah menjadi sosok yang mampu dijadikan “idola”. Hal ini menjadi penting
karena orang tua akan sangat ditiru oleh anak baik dari sisi akademis maupun
berperilaku. Maka, kita sering mendengar jargon “buah jatuh tidak jauh dari
pohonnya”.
Sabtu, 20 Oktober 2012
Jumat, 19 Oktober 2012
/19/
Sabtu
baru saja dimulai, tepatnya 45 menit berjalan. Namun, lapar ini mulai
mengikis kehangatan malam. Satu dus snack sisa selamatan kelahiran
ponakan menjadi harapan terakhir lapar ini tertunda. Ya, demikianlah
kiranya, mengingat di meja makan hanya tersisa sepiring bubur yang sama
sekali aku tak suka.
Sabtu
baru saja dimulai, tepatnya 45 menit berjalan. Namun, lapar ini mulai
mengikis kehangatan malam. Satu dus snack sisa selamatan kelahiran
ponakan menjadi harapan terakhir lapar ini tertunda. Ya, demikianlah
kiranya, mengingat di meja makan hanya tersisa sepiring bubur yang sama
sekali aku tak suka.
Lalu bagaimana dengan dahaga? Aku rasa,
aku tak perlu segelas air putih atau secangkir kopi hangat. Itu bukan
karena aku sang ular. Tapi, semua lebih karena ini hari sabtu, hari di
mana senyummu menjadi pelepas dahaga kerinduan yang satu minggu
tertatahan. Bersiaplah, mulailah bersolek sejak dalam mimpimu. Dengan
begitu, ketika matamu mulai terbuka dan kau sadar, kau sudah terlihat
makin cantik. Begitu juga aku, aku akan mulai menyisir rambutku
menjelang aku lelap. Hingga sudah dapat kupastikan, aku sudah tampan
meski tak lagi tersadar.
Rabu, 17 Oktober 2012
/18/
Suara itu cukup keras terdengar. Ya, keras hingga dinding ketidaksadaranku pun roboh sehingga aku terbangun dr lelap. Mata sontak terbuka, menghela nafas sejenak sambil berharap nyawa ini segera berkumpul dan menyadarkanku 100%. O, ternyata suara horn masjid di sudut kampung sunyi ini. Tetapi sebentar, bukan lantunan asma Allah. Ya, suara itu bukan panggilan untuk beribadah yg dikumandangkan. Ah tidak, benar saja, itu berita salah seorang karib yg meninggal di cikarang. Rupanya dia meninggal semalam tepat ketika jarum jam menunjuk angka 7 dan 12.
Suara itu cukup keras terdengar. Ya, keras hingga dinding ketidaksadaranku pun roboh sehingga aku terbangun dr lelap. Mata sontak terbuka, menghela nafas sejenak sambil berharap nyawa ini segera berkumpul dan menyadarkanku 100%. O, ternyata suara horn masjid di sudut kampung sunyi ini. Tetapi sebentar, bukan lantunan asma Allah. Ya, suara itu bukan panggilan untuk beribadah yg dikumandangkan. Ah tidak, benar saja, itu berita salah seorang karib yg meninggal di cikarang. Rupanya dia meninggal semalam tepat ketika jarum jam menunjuk angka 7 dan 12.
Langganan:
Postingan (Atom)
