/62/
Sepotong dialong di antara riani hujan ....
"Nduk, sliramu kok yo gelem-geleme karo aku? Sliramu rak yo ngerti to nduk, nek masa depanku ki durung cetho"
"Kabeh mau mergo kula tresna mas, pancen masa depane dereng cetha,
nanging usahane mas nyoto. Luwih-luwih, kula milih mas mergo sing liyane
soyo ora cetho mas"
Senin, 09 Desember 2013
Selasa, 26 November 2013
/61/
Sedih, ketika mengoreksi hasil pekerjaan mahasiswa yg ternyata hasil pekerjaannya hanya berupa "copy paste" dari internet. Kalaupun ada hasil buah pemikirannya sendiri, hal itu tidak lebih dari 20%. Rasanya aku memang pantas bersedih, fenomena ini secara tersirat memberi gambaran bahwa apa yang sudah saya jelaskan selama ini percuma. Ya, percuma, karena hampir semua mahasiswa tidak menerapkan apa yang sudah saya jelaskan selama ini.
Sedih, ketika mengoreksi hasil pekerjaan mahasiswa yg ternyata hasil pekerjaannya hanya berupa "copy paste" dari internet. Kalaupun ada hasil buah pemikirannya sendiri, hal itu tidak lebih dari 20%. Rasanya aku memang pantas bersedih, fenomena ini secara tersirat memberi gambaran bahwa apa yang sudah saya jelaskan selama ini percuma. Ya, percuma, karena hampir semua mahasiswa tidak menerapkan apa yang sudah saya jelaskan selama ini.
Minggu, 17 November 2013
/60/
Hasil analisis hari ini dapat disimpulkan bahwa akan lebih baik jika pada musim pancaroba kegiatan ternak yang dilakuakn adalah memulai proses penetasan telur. Dengan perkiraan, ketika telur menetas dan ayam berumur 1 bulan, musim pancaroba telah berakhir. Dengan demikian, resiko ayam mati karena dampak peralihan musim bisa ditekan.
Rabu, 13 November 2013
/59/
Kadang elek'e wong tuwo ki mung siji. Dewek'e rumongso wes paling bener mergo wes nglakoni urip luwih suwe. Dadi, senajan dewek'e kleru, nanging sing mbenerke kui wong sing luwih enom yo tetep wae rumongso paling bener.
Nha yen koe wes rumongso tuwo, bab iki mau dipenggalih. Ojo dadi wong tuwo sing kolot, sing isine mung "pokok'e kudu". Iyo bener pengalaman kui iso dadi ilmu, nanging ora kabeh ilmu iso diperoleh seko pengalaman.
Kadang elek'e wong tuwo ki mung siji. Dewek'e rumongso wes paling bener mergo wes nglakoni urip luwih suwe. Dadi, senajan dewek'e kleru, nanging sing mbenerke kui wong sing luwih enom yo tetep wae rumongso paling bener.
Nha yen koe wes rumongso tuwo, bab iki mau dipenggalih. Ojo dadi wong tuwo sing kolot, sing isine mung "pokok'e kudu". Iyo bener pengalaman kui iso dadi ilmu, nanging ora kabeh ilmu iso diperoleh seko pengalaman.
Selasa, 11 Juni 2013
BILINGUALISE vs MULTILINGUALISME
/56/
BILINGUALISE
vs MULTILINGUALISME
Oleh Rahmat
Hidayat, S.Pd.
A. Bilingualisme
dan Multilingualisme
Bahasa memiliki peran
penting terhadap sekelompok masyarakat. Kondisi masyarakat yang majemuk
mengakibatkan setiap kelompok masyarakat berbicara dengan bahasa berbeda.
Banyak negara di dunia ini mengenal lebih dari dua macam bahasa. Misalnya, Perancis,
India, Kanada, Nigeria, dan Indonesia. Ada banyak negara yang secara linguistik
terpilah-pilah sehingga setiap anak menjadi dwibahasawan
(bilingual) atau anekabahasawan
(multilingual) (Sumarsono, 2012:164).
Sebagai contoh berikut
ilustrasi yang memberikan gambaran masyarakat dwibahasawan.
Pilar adalah anak yang dilahirkan dari latar belakang orang tua bersuku
Jawa. Dalam kesehariannya, bahasa Jawa digunakannya untuk berinteraksi dengan
orang tua dan tetangga. Dengan demikian, ia berbahasa ibu bahasa Jawa. Ketika
bersekolah ia mulai mengenal bahasa Indonesia dan sejak itu ia mulai mahir
berbahasa Indonesia.
Ilustrasi tersebut terjadi
dalam konteks wilayah Indonesia. Setiap anak yang bahasa pertamanya bukan
bahasa Indonesia berpotensi menjadi bilingual. Terlebih di Indonesia yang
memiliki sejumlah bahasa daerah tertentu menyebabkan kemungkinan besar setiap
orang adalah bilingual. Hal itu sesuai dengan asumsi Edward (1994:55) bahwa
tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak tahu beberapa kata dalam
sebuah bahasa selain bahasa ibu.
Lalu apa bilingual itu? Berdasarkan kamus Webster
(1961) bilingual didefinisikan sebagai ‘memiliki atau menggunakan dua bahasa
terutama karena diucapkan dengan karakteristik penutur asli, orang yang menggunakan
dua bahasa terutama karena kebiasaan dan dengan kontrol. Sementara itu, Kamal K
Sridhar (melalui Sandra dan Nancy, 2009:47) mengatakan bahwa istilah bilingual
dan multilingual telah digunakan secara bergantian dalam literatur untuk
merujuk pada pengetahuan atau penggunaan lebih dari satu bahasa oleh seorang
individu atau komunitas.
Ada beberapa jenis masyarakat multilingual. Grosjean
(melalui Sandra dan Nancy, 2009:48) menyebutkan dua jenis masyarakat
multilingual, yaitu prinsip teritorial multilingualisme dan prinsip
personalitas. Prinsip teritorial multilingualisme mengacu pada keseluruhan
bangsa adalah multibahasa tetapi tidak semua individu multibahasa. Sementara
prinsip personalitas menyatakan bahwa bilingualisme adalah kebijakan negara dan
sebagian besar individu adalah multibahasa.
B. Alasan
Lahirnya Multilingualisme
Bagaimana sebuah masyarakat dapat menjadi
multilingual? Tentu saja ada beberapa faktor yang mendasarinya. Faktor yang
paling jelas menyebabkan multilingualisme masyarakat adalah migrasi (Sidhar
melalui Sandra dan Nancy (2009:48). Ketika penutur bahasa menetap selama
bertahun-tahun di daerah tempat bahasa lain digunakan dan terus mempertahankan
bahasa mereka sendiri maka penutur tersebut menjadi multilingual.
Penyebab lain multilingualisme masyarakat adalah
kontak budaya. Ketika masyarakat mengimpor dan mengasimilasi lembaga kebudayaan
masyarakat lain selama bertahun-tahun, mungkin multilingualisme pun terwujud.
Alasan ketiga menurut Sidhar melalui Sandra dan Nancy (2009:48) adalah aneksasi
dan kolonialisme. Di samping itu, ada pula alasan lain seperti ketergantungan
komersial, ilmu pengetahuan, dan teknologi dari penutur bahasa tertentu ke
penutur bahasa lain.
SUMBER REFERENSI
Edward, John. 2003. Multilingualism. London: Routledge
Mckay, Sandra Lee dan Nancy H Hornberger. 2009. Sociolinguistics and Language Teaching. London:
Cambridge University Press.
Mckay, Sandra Lee dan Nancy H Hornberger. 2010. Sociolinguistic and Language Education. London:
Cambridge University Press.
Sumarsono. 2012. Sosiolinguistik.
Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
KETERKAITAN ETNISITAS DAN JARINGAN SOSIAL DENGAN BAHASA
/55/
KETERKAITAN ETNISITAS DAN JARINGAN SOSIAL DENGAN
BAHASA
Oleh Rahmat Hidayat, S.Pd.
A.Hakikat
Etnisitas
Waters (1990) mengungkapkan
bahwa pada umumnya orang menghubungkan etnisitas dengan perbedaan berdasarkan
asal negara, bahasa, agama, makanan dan penanda budaya lainnya, dan hubungan
ras untuk pembedaan berdasar penampilan
fisik. Dapat dikatakan bahwa etnis merupakan sekelompok orang yang memiliki
kesamaan karakteristik budaya, bahasa, dan penampilan fisik tetapi memiliki
perbedaan identitas dengan sekelompok orang yang lain.
Thomas dan Wareing
(2007:136) menyebutkan dua konsep yang banyak digunakan dalam pembahasan kelompok etnis yakni “etnis mayoritas” dan “etnis
minoritas”. Etnis mayoritas adalah kelompok budaya yang berperan dominan dalam
mempengaruhi infrastruktur-infrastruktur dalam sebuah negara. Dengan kata lain,
kelompok ini adalah pemegang kekuasaan sosial dan politik. Sementara itu, etnis
minoritas mengacu pada kelompok etnis yang kekuasaan sosial dan politiknya
kecil atau tidak ada sama sekali.
Thomas dan Wareing
(2007:137) menegaskan bahwa keyakinan-keyakinan yang dibentuk oleh etnis
mayoritas dianggap sebagai sesuatu yang normal/wajar. Di lain sisi, segala
sesuatu yang berbeda dari etnis mayoritas akan dianggap atipikal/
tidak wajar atau nyeleneh.
Hal itu pun tampak pada penggunaan bahasa etnis mayoritas dan minoritas.
Etnis mayoritas sering menggunakan bahasa yang menekankan sifat “beda” dari
etnis minoritas. Akan tetapi, etnis minoritas pun dapat membedakan diri mereka dari
etnis mayoritas dalam hal penggunaan bahasa (Thomas dan Wareing, 2007:152).
Ketika orang termasuk dalam
kelompok yang sama, mereka sering berbicara dengan bahasa sama. Namun ada
banyak kelompok berbeda dalam sebuah komunitas, sehingga setiap individu dapat
berbagi fitur linguistik dengan berbagai pembicara lain. Beberapa fitur
linguistik tersebut mengindikasikan status sosial seseorang. Ada juga petunjuk
untuk penanda etnis seseorang. Setiap individu memanfaatkan semua sumber daya
ini ketika mereka sedang membangun identitas sosialnya (Holmes, 2001:175).
B.
Penggunaan Bahasa Sebagai Penanda Identitas Etnis
Etnis minoritas di suatu
negara selalu berusaha untuk membedakan diri mereka dari etnis mayoritas.
Contohnya, etnis minoritas tetap menggunakan bahasa asli mereka yang berbeda
dengan bahasa resmi yang digunakan etnis mayoritas. Tentu saja, etnis mayoritas
ada yang tidak setuju sehingga muncullah label negatif tentang penggunaan
bahasa minoritas. Berikut ini akan dipaparkan status bahasa Afrika Amerika
Vernakular Inggris atau bahasa Ebonik (bahasa khas kulit hitam) di Amerika dan British Black English di negara Inggris.
1. Amerika
Afrika Vernakular Inggris
Dalam buku Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan karya
Thomas dan Wareing (2007:152) dijelaskan bahwa pada tahun 1990 ada kira-kira 30
juta orang Afro-Amerika di AS (sekitar 12% dari total populasi). Sebanyak 80-90
persen kalangan Afro-Amerika ini diperkirakan menggunakan jenis bahasa Ebonics (dari kata “ebony” yang berarti
“hitam” dan “phonics” yang berarti suara. Selain itu, Ebonics juga dikenal sebagai African
American Vernacular English (AAVE, bahasa sehari-hari (vernakular) dari
kalangan Afro-Amerika).
Dialek AAVE ini memiliki
sejumlah fitur yang tidak terjadi dalam standar utama Amerika Inggris, dan
lain-lain yang terjadi sangat jauh lebih sering dalam variasi standar. Tindakan
linguistik berbeda ini sebagai simbol etnisitas (Holmes, 2001:177). Mereka
mengekspresikan banyak rasa kekhasan budaya Afrika Amerika.
Ada banyak kalangan
masyarakat Eropa-Amerika dan bahkan kalangan Afro-Amerika yang menganggap bahasa
Ebonik bukanlah bahasa yang normal/wajar. Penyebabnya adalah ebonik sebagai
varian dari bahasa Inggris memiliki perbedaan dengan bahasa Inggris standar di
Amerika. Bahkan banyak yang memandang bahasa Ebonik/AAVE ini sebagai bahasa
Inggris yang “rusak” atau penuturnya dianggap “bodoh, tidak berpendidikan.”
AAVE terdengar terutama di
kota-kota utara di Amerika Serikat. Salah satu fitur yang paling khas adalah
tidak lengkapnya kata kerja kopula be dalam
beberapa konteks sosial dan linguistik. Dalam kebanyakan konteks tuturan,
pembicara bahasa Inggris standar menggunakan bentuk kata kerja be dipersingkat atau dikurangi. Dengan
kata lain, orang tidak biasa mengatakan She
is very nice tetapi She’s very nice. Mereka
mengurangi atau menyingkat is to s.
|
African American Vernacular English
|
American Standard English
|
|
She very nice
He a teacher
That my book
The beer warm
|
She’s very nice
He’s a teacher
That’s my book
The beer’s warm
|
Secara jelas dapat
disimpulkan bahwa tata bahasa AAVE memiliki beberapa fitur yang tidak terjadi
dalam tata bahasa orang Amerika putih. Namun, ada banyak fitur bahasa Inggris
yang digunakan oleh kelompok-kelompok sosial ekonomi rendah di Amerika Serikat
yang juga terjadi pada AAVE. Pada umumnya pembicara AAVE hanya menggunakan
fitur ini lebih sering daripada orang Amerika putih (Thomas dan Wareing,2007:158).
2. British
Black English
Di Inggris, cara etnis
minoritas yang berbeda dalam berbicara bahasa Inggris sering sekali memiliki
kekhasan sama. Bahasa Inggris etnis yang berbicara bahasa minoritas seperti
Gujarat, Punjabi, dan Turki pada umumnya memberi sinyal latar belakang
etnisnya. Dan orang-orang India atau Afrika asal Karabia menggunakan batasan
varietas, tergantung pada tempat mereka tinggal di Inggris dan berapa lama
keluarga mereka telah tinggal di Inggris. Mereka yang lahir di Inggris Raya
biasanya digambarkan sebagai anggota kelompok masyarakat kulit hitam Inggris
dan sebagian besar berbicara variasi bahasa kreol Jamaika sama baiknya dengan
variasi bahasa Inggris.
Variasi bahasa Kreol Jamaika yang digunakan oleh orang
kulit hitam Inggris dikenal sebagai Patois. Orang Jamaika di London, misalnya
adalah variasi London Patois. Variasi tersebut berasal dari bahasa Kreol
Jamaika, tetapi memiliki sejumlah fitur yang membedakannya dari variasi
Jamaika.
Contoh:
Polly adalah seorang remaja kulit hitam Inggris yang tinggal di Midlands
Barat. Orang tuanya datang ke Inggris dari Jamaika pada tahun 1963 untuk
mencari pekerjaan. Meskipun Ibu Polly memiliki pendidikan baik di Jamaika,
satu-satunya pekerjaan yang mampu ia temukan di Dudley adalah membersihkan kantor
pada malam hari. Ayah Polly bekerja di pabrik tetapi sekarang dia dipecat dan
telah menganggur selama hamper dua tahun. Mereka tinggal di lingkungan yang
didominasi orang hitam dan hampir semua teman Polly adalah orang kulit hitam
muda. Polly dan orang tuanya mendatangi gereja Pentekostal lokal. Kakaknya juga
menghadirinya, tapi ia telah berhenti sejak ia keluar sekolah
C.
Jaringan
sosial
Jaringan dalam
sosiolinguistik mengacu pada pola hubungan informal orang yang terlibat secara
teratur (Holmes, 2000:184). Ada dua istilah yang telah terbukti sangat berguna
untuk menggambarkan berbagai jenis jaringan – kepadatan dan kompleksitas.
Kepadatan mengacu pada apakah anggota jaringan seseorang berhubungan satu sama
lain. Apakah teman-teman Anda mengenal satu sama lain secara independen? Jika
demikian jaringan Anda memenuhi kepadatan. Hubungan mengenal dan berinteraksi
secara teratur dengan sesama teman Tom, sama baiknya dengannya. Jelas bahwa Tom
milik jaringan padat. Berikut ini ilustrasi tentang jaringan sosial yang
dimiliki oleh Tom.
Contoh:
Tom tinggal di Ballymacarrett, daerah timur protestan dari Lagan sungai
di Belfast. Dia berumur 18 tahun dan bekerja sebagai pekerja magang di galangan
kapal. Dia mendapatkan pekerjaan melalui Paman Bob dan Ia memiliki sepupu Mike
yang bekerja di tempat sama. Ia dan Mike tinggal di jalan yang sama dan hampir
setiap malam mereka minum bir bersama-sama setelah bekerja. Mereka juga
menjalankan disko dengan dua temannya, Jo dan Gerry, dan itu berarti bahwa
beberapa malam dalam seminggu mereka melakukan perjalanan melintasi kota untuk
tampil di tempat yang berbeda.
Cara Tom dan sepupunya
berbicara merefleksikan fakta bahwa mereka milik sebuah komunitas pekerja kecil
yang hubungannya erat. Laki-laki yang bekerja dengannya dan campur dengan
pekerjaan di luar hubungan dan juga tetangga, mereka semua berbicara sama. Pola
yang dicatat pada bagian sebelumnya menunjukkan bahwa sebagai anggota dari
kelas pekerja, mereka akan cenderung menggunakan bentuk yang lebih vernankular
disbanding kelompok sosial lainnya. Tom dan temannya menggunakan sejumlah besar
bentuk tuturan vernankular.
Mereka sering menghapus th [
] pada mother dan brother, dan mengucapkan man dengan [mo:n], dan map dengan [ma:p]. Sebaliknya
orang-orang dalam komunitas Tom yang tidak memiliki bagian lebih dalam
kekerabatan, tetangga dan jaringan kerja-yang lebih marginal- cenderung
berbicara kurang ‘luas’. Misalnya, Sandy, seorang laki-laki yang hidup di tepi
Ballymacarret bekerja sebagai pegawai negeri. Dia datang dari Irlandia Selatan
dan tidak memiliki keluarga di Belfast. Ia melihat orang seperti Tom hanya
sesekali di pub. Dia tidak benar-benar bagian erat dari para lelaki
Ballymacarret dan tuturannya mengungkapkan hal ini. Ia menggunakan bentuk
vernankular jauh lebih sedikit daripada Tom dan Mike.
Plexity adalah ukuran
dari berbagai jenis orang yang terlibat dalam transaksi dengan individu yang
berbeda. Hubungan uniplex adalah
salah satu tempat link dengan orang lain dalam satu bidang. Anda dapat
dikaitkan dengan orang lain misalnya hanya karena Anda bekerja bersama, mungkin
Anda bermain badminton bersama dan tidak pernah bertemu dalam konteks lain.
Jika sebagian besar transaksi dalam komunitas adalah dari jenis jaringan ini,
akan ditandai sebagai uniplex. Hubungan
multiplex sebaliknya, melibatkan
interaksi dengan lainnya sepanjang beberapa dimensi. Jika sebagian besar
transaksi dalam komunitas seperti itu, jaringan akan dianggap multiplex. Jaringan Tom adalah multiplex karena orang-orang yang
bekerja dengannya, juga merupakan teman di pub, relasi, dan tetangga.
Tidak mengherankan bahwa
tuturan orang harus mencerminkan jenis jaringan yang dimiliki. Orang yang
berinteraksi dengan kita adalah salah satu pengaruh penting pada tuturan.
Ketika ada orang yang bergaul dengan kita secara teratur memiliki kelompok
homogen, biasanya kita akan berbicara sama dengan kelompok tersebut. Siapa yang
berbicara dengan kita dan yang mendengarkan secara teratur adalah pengaruh
penting pada cara kita berbicara.
SUMBER
REFERENSI
Holmes, Janet. 2001. An Introduction to
Sociolinguistics. London: Pearson.
Thomas, Linda dan Shan Wareing. 2007. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan. Yogyakarta:Pustaka
Pelajar
APA YANG DIMAKSUD INTEGRASI BAHASA, PIDGIN, KREOL, DAN DIGLOSIA?
/54/
APA YANG DIMAKSUD
INTEGRASI BAHASA, PIDGIN, KREOL, DAN DIGLOSIA?
Oleh Rahmat Hidayat,
S.Pd.
A.
Integrasi
Bahasa
Mackey (dalam
Abdul Chaer:128) mendefinisikan integrasi sebagai unsur-unsur lain yang
digunakan dalam bahasa tertentu dan dianggap sudah menjadi warga bahasa
tersebut (tidak dianggap lagi sebagai unsur pinjaman atau pungutan).
Pengintegrasian bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia bisa melalui proses
penerimaan ataupun proses penyerapan.
Penerimaan unsur
bahasa lain dalam bahasa tertentu membutuhkan waktu dan tahap yang cukup lama.
Proses integrasi ini biasanya diawali ketika suatu bahasa tidak memiliki padanan
kata yang ada di dalam bahasa lain tersebut atau bisa saja ada padanannya namun
tidak diketahui. Keadaan itu akan berdampak pada proses peminjaman bahasa dari
bahasa lain/bahasa asing. Apabila unsur pinjaman tersebut sudah bersifat umum
atau bisa diterima, dan dipergunakan oleh sebagian besar masyarakat maka
barulah bahasa tersebut bisa dikatakan sudah terintegrasi dengan bahasa yang
dimasukinya.
Proses
penerimaan unsur bahasa asing, khususnya unsur kosakata dalam bahasa Indonesia
lebih banyak terjadi melalui proses mendengar atau audial. Apa yang didengar maka itulah yang akan diujarkan atau
dituliskan sehingga seringkali menimbulkan ketidakteraturan. Contohnya kata horloge menjadi arloji, dan kata appel menjadi apel, dan lain sebagainya.
Akan tetapi, jika dilihat dari konteks penyerapan bahasa maka proses
pengintegrasian bahasa menurut Abdul Chaer dan Leoni Agustina (2010: 129) bisa
melalui dua proses, yakni:
1.
penerjemahan langsung,
maksudnya kosakata tersebut dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia.
Misalnya airport menjadi bandar
udara, joint venture menjadi usaha
patungan, balance budget menjadi
anggaran berimbang, dan lain sebagainya.
2.
penerjemahan konsep,
maksudnya konsep bahasa asing tersebut diteliti dengan seksama kemudian
dicarikan padanan konsepnya yang paling dekat dalam bahasa Indonesia. Misalnya,
begroting post menjadi mata anggaran,
network menjadi jaringan, brother in
law menjadi ipar laki-laki, dan lain sebagainya.
B.
Pidgin
Pidgin
dan kreol tidak dianggap sebagai suatu bahasa
utuh yang ‘pantas’ , dianggap tidak memiliki tata bahasa dan struktur,
hanyalah merupakan sebuah penyimpangan individual oleh para penutur yang tidak
memiliki gengsi. Kasarnya, bahasa pidgin umumnya diartikan sebagai simplifikasi
bahasa dimana kosakatanya kebanyakan berasal dari bahasa lain, tetapi
tatabahasanya sangat berbeda. Pidgin
dibentuk ketika para penutur oleh sebuah bahasa melakukan hubungan dagang
dengan penutur bahasa lain, atau bekerja pada perkebunan yang diurus oleh
penutur bahasa lain dan tidak mengerti bahasa lawan tuturnya.
Pidgin
merupakan sebuah bahasa yang tidak memiliki
penutur asli (native speaker).
Pidgin berkembang sebagai alat komunikasi antara orang-orang yang tidak
memiliki bahasa yang sama. Pada awalnya pidgin berkembang dalam fungsi yang
sempit. Mereka yang menggunakan pidgin juga memiliki bahasa lainnya juga, jadi
pidgin merupakan bahasa tambahan yang digunakan untuk tujuan tertentu seperti
dalam perdagangan atau administrasi. Pidgin digunakan lebih sebagai fungsi
referensial dibandingkan fungsi afektif. Digunakan sebagai fungsi spesifik
seperti untuk membeli dan menjual padi atau kulit hewan, daripada untuk
mengisyaratkan perbedaan sosial atau ungkapan kesopanan. Hasilnya, struktur
pidgin biasanya tidak serumit yang dibutuhkan untuk mengungkapkan fungsinya.
Tidak ada satupun yang menggunakan pidgin sebagai alat identifikasi grup atau
untuk mengungkapkan jarak sosial. Jadi, tidak ada tuntutan untuk menjaga
ciri-ciri berlebih referensial sebuah bahasa atau pengucapan yang rumit. Yang tujuannya
untuk mengisyaratkan seberapa berpendidikannyanya seseorang.
Pidgin
diciptakan dari usaha orang-orang yang memiliki bahasa yang berbeda. Hal itu karena
pidgin berkembang untuk melayani fungsi jangkauan yang sangat sempit dalam
domain yang terbatas, maka pengguna bahasa pidgin ini cenderung untuk
menyederhanakan struktur dan menggunkaan kosakata yang sedikit. Kata-katanya
umumnya tidak memiliki infleksi (perubahan pada grammar atau ucapan) untuk
menandai. Contohnya dalam bahasa Inggris, kata jamak atau waktu (tenses) kata
kerja tidak digunakan.
Penyederhanaan
bahasa pidgin terlihat sekali pada aspek tatabahasa dan pelafalannya. Pidgin
tidak memiliki gender tatabahasa pada sistem kata benda dan tidak memiliki
akhir persetujuan kata benda-kata kerja. Waktu dan aspek diungkapkan dengan
kata-kata yang terpisah daripada dengan akhiran. Pelafalan cenderung pada pola
konsonan diikuti oleh vowel dan cluster (kelompok) lebih dari satu konsonan
cenderung dihindari. Pidgin cenderung untuk mengurangi isyarat grammar. Hal ini
memudahkan pembicaranya untuk belajar dan menggunakannya, walaupun hal ini
memberi ‘beban lebih’ pada pendengarnya.
Pidgin bukanlah bahasa para kelas atas atau bahasa yang bergengsi, dan bagi mereka yang
tidak menggunakannya, bahasa ini terdengar menggelikan. Contohnya bahasa Tok
Pisin (pidgin talk), sebuah pidgin Melanesia Inggris dari Papua New Guinea)
dibawah ini:
moustache (kumis) = grass
belong mouth (rumput bibir)
Ada
3 ciri-ciri bahasa pidgin :
1. digunakan
dalam fungsi dan domain yang terbatas
2. memiliki
struktur yang sederhana dibandingkan dengan bahasa sumbernya.
3. Memiliki
gengsi rendah dan menarik sikap negatif—khususnya dari orang luar.
C.
Kreol
Kreol
adalah pidgin yang membutuhkan penutur asli (native-speaker). Banyak dari pidgin ini yang kemudian menjadi
kreol. Bahasa ini digunakan oleh anak-anak sebagai bahasa pertama mereka dan
digunakan dalam jangkauan domain yang luas. Salah satu contohnya adalah Tok
Pisin yang telah digunakan sebagai
bahasa pertama oleh sejumlah besar penutur dan telah berkembang sesuai dengan
kebutuhan linguistik. Selain berkembang sebagai bahasa pertama, kreol juga
berbeda dari pidgin dari segi fungsi dan strukturnya.
Kreol
merupakan pidgin yang telah mengalami perluasan dalam segi struktur dan
kosakatanya untuk mengungkapkan makna atau fungsi yang serupa yang diperlukan
oleh sebuah bahasa pertama. Kreol muncul
ketika bahasa pidgin menjadi bahasa ibu dari sebuah generaasi baru anak-anak.
Misalnya ketika seorang pria dan seorang wanita yang memiliki bahasa yang berbeda
menikah, keduanya tahu bahasa pidgin dan belajar bahasa pasangannya. Pidgin
kemudian menjadi bahasa rumah yang digunakan bersama dan menjadi bahasa ibu anak-anak mereka. Seting ini
terjadi ketika masa bleakest (suram) perbudakan di hemisfer Barat, ketika
berusaha memisahkan para budak Afrika yang memiliki bahasa asli yang sama untuk
mencegah pemberontakan. Hanya ada bahasa pidgin yang tersedia sebagai bahasa
umum dan bahasa ini menjadi bahasa ibu bagi para generasi baru. Contoh pidgin
yang terkenal yang menjadi kreol adalah Hawaiian pidgin dan Tok Pisin (‘Talk
Pidgin’) Papua New Guinea.
Dalam
teori klasik kreol, kreol adalah sebuah bahasa pidgin yang diperoleh oleh
penutur asli (dari keturunan penutur pidgin). Dewasa ini, muncul perdebatan
ilmiah tentang hubungan pidgin yang menjadi kreol dan asalnya. Namun, para
ilmuwan sepakat bahwa sebagai bahasa
ibu, kreol telah meluas pada tata bahasa dan lexikon yang dibutuhkan oleh
mereka dan kreol menjadi bahasa penuh
yang reguler. Namun, karena kreol berdampingan dengan dasar-lexikon sebagai
sebagai bahasa standar, resmi, seperti bahasa standar Prancis di Haiti, bahasa
standar English di Jamaika, sikap bahasa terhadap kreol menjadi begitu
kompleks. Walaupun merupakan bahasa rumah, intimasi dan solidaritas, bahasa
kreol tidak mendapatkan ‘rasa hormat’, memiliki status sosial rendah, tak
diindahkan dan seringnya keberadaannya disangkal oleh penuturnya itu sendiri.
D.
Diglosia
Istilah
diglosia pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris oleh Charles Ferguson in
1959 (bahasa prancisnya diglossie, yang mana mengisnpirasi pembuatan uang logam Ferguson , awalnya
digunakan oleh seorang linguis Prancis, Marcais). Artikel Ferguson sekarang
dianggap sebagai referensi klasik
diglosia. Diglosia merupakan istilah yang digunakan untuk mengklasifikasikan
situasi komunikasi dalam masyarakat yang membuat penggunaan pelengkap pada
pertukaran sehari-hari dari dua kode yang berbeda, baik dua variasi bahasa yang
berbeda ataupun dua bahasa. situasi tertentu mengisyaratkan penggunaan salah
satu kode tersebut, bahasa A pada pelarangan bahasa yang lain, bahasa B, yang
mana hanya dapat digunakan dalam situasi dimana bahasa pertama dilarang. Namun
demikian, definisi ini meliputi banyak variasi. Walaupun ada situasi diglosia
dalam sebuah mayoritas masyarakat, contohnya di Inggris Raya, ada sebuah
perbedaan antara bahasa Inggris yang digunakan antara teman atau ketika
berbelanja dan yang digunakan di universitas atau konferensi-konferensi publik.
Perlu
ditekankan bahwa penggunaan yang lebih disukai dari istilah ini mengacu pada
masyarakat dimana perbedaannya ditandai secara khusus dan sering di sokong
dalam penggunaan variasinya (contohnya, bahasa standar/ patois,
Katharevusa/Demotic di Yunani dan Prancis/ kreol di mayoritas area pembicaraan
kreol Prancis). Umumnya, situasi diglosia ini merupakan situasi konflik bahasa
dimana satu dari bahasa tersebut diistilahkan dengan variasi/ragam ‘tinggi’
bertentangan dengan yang lain yang dianggap ‘rendah’ yang mana yang pertama
digunakan dalam situasi komunikasi yang
dianggap ‘ningrat’ (menulis, penggunaan formal, dll) dan yang berikutnya
digunakan dalam keadaan yang lebih informal (percakapan dengan keluarga dekat dll).
Penggunaan ragam tinggi dapat ditemukan
pada acara-acara seperti pidato kepresidenan, khotbah, kuliah, atau ceramah.
Selain itu ragam tinggi juga bisa ditemukan dari beberapa media seperti
televisi, radio, koran majalah dan lain-lain. Acara-acara yang dimaksud
contohnya dapat disaksiakan atau ditemukan langsung pada saat siaran berita
atau debat ilmiah, tajuk rencana dan artikel di surat kabar. Faktor-faktor yang
mempengaruhi situasi diglosia menurut Sumarsono (2004: 199) antara lain
partisipan, suasana, dan topik.
Langganan:
Komentar (Atom)